SUARA SEPINTU SEDULANG

TINGKATKAN MINAT PETANI GUNAKAN PUPUK KOMPOS ORGANIK

Tingkatkan Minat Petani Gunakan Pupuk Kompos Organik

Balunijuk,MSM
Sebanyak sembilan mahasiswa Jurusan Agribisnis Fakultas Pertanian Perikanan dan Biologi Universitas Bangka Belitung (UBB), Jumat (3/11) pagi, melaksanakan penyuluhan tentang pemuatan pupuk kompos berbahan organik kepada petani di Desa Labu Kecamatan Puding Besar, Bangka.

Ketua Kelompok Penyuluhan Agribisnis Harun Rosit mengemukakan kegiatan ini merupakan bagian dari pembelajaran team based project untuk matakuliah penyuluhan pertanian. Matakuliah berbobot tiga satuan kredit semester (sks) ini diampu oleh Dr Fournita Agustina S.P. M.Si, Yulia, S.Pt., M.Si dan Ir Eddy Jajang Jaya Atmaja MM.

“Antusias petani sangat tinggi. Mereka mengaku senang karena mendapat informasi baru cara membuat kompos berbahan organik. Apalagi bahan utamanya di desa ini sangat berlimpah, seperti tandan kosong sawit dan kotoran sapi,” ujar Harun Rosit, yang didampingi Awaluddin sebagai pemberi materi penyuluhan.

Penyuluhan cara membuat pupuk kompos organik ini dilaksanakan di Kantor Badan Permusyawaratan Desa (BPD). Sedikitnya 25 petani hadir, didampingi Ketua Gabungan Kelompok Tani (Gapoktan) ‘Labu Maju Bersama’ Kandar dan Kepala Desa Labu,Muslim.

Dalam penyuluhan tersebut, Awaludin dan Harun Rosit secara panjang-lebar memaparkan cara memproduksi pupuk kompos organik. Bahan yang digunakan di antaranya limbah sawit seperti tandan kosong dan fiber sawit, kotoran hewan (kohe), fermentasi ikan, molase, dan kapur pertanian.

“Semua petani di sini bisa membuat pupuk kompos organik. Selain mudah membuatnya, bahan baku pupuk organik pun mudah diperoleh. Petani bisa menghemat biaya pemupukan, karena mampu memproduksi pupuk kompos organik sendiri,” tukas Harun, mahasiswa Agribisnis semester lima.

Langkah pertama membuat pupuk kompos berbahan organik menurut Harun adalah mencampur semua bahan di sebuah wadah. Setiap minggu sekali bahan kompos diaduk hingga merata. .Selama tiga hingga satu bulan, bahan kompos yang difermentasi disiram menggunakan air limbah ikan. Setelah pupuk kompos organik ‘matang’, didiamkan hingga suhu turun dan menjadi dingin. Setelah itu baru dikemas dalam karung ukuran lima hingga 10 kilogram.

“Ini penting diketahui, sebab kalau suhu kompos organik masih tinggi langsung digunakan kepada tanaman, tanaman bisa mati,” ujar Harun, dalam penyuluhan yang dimoderatori oleh Fitri Adelia.

Menjawab pertanyaan salah seorang petani yang hadir, Awaluddin yang mendampingi Harun mengemukakan tempo menghasilkan pupuk itu sekitar satu hingga dua bulan. Ciri pupuk sudah matang dan bisa digunakan, di antaranya warna yang berubah menjadi hitam, aroma tapai, dan suhu fermentasi tidak lagi panas.

Dikemukakan Awaluddin pupuk kompos organik memiliki banyak kelebihan. Di samping mengandung unsur hara makro, seperti Nitrogen (N) lebih dari 1,5 persen, sementara kandungan Fosfat satu persen, dan Kalium Clorida (KCl) 1,5 persen, penggunaan pupuk kompos justeru memperbaiki struktur tanah.

“Kelebihan lainnya, jika ditaburkan di tanah selama enam bulan, unsur hara yang terkandung di pupuk tidak hilang. Bahkan, kalau pun digunakan melebihi takaran yang ditentukan, tanaman tidak akan mati,” ujar Awalludin.

Menanggapi penyuluhan yang dilaksanakan oleh mahasiswa Agribisnis UBB, Kepala Desa Labu Muslim mengungkapkan kegembiraannya. Sebab edukasi teknis membuat pupuk kompos organik ini, sangat bermanfaat bagi kelanjutan usahatani petani. Ada alternatif pupuk yang mudah diproduksi oleh petani sendiri.

Sebagian besar dari penduduk di Desa Labu
berprofesi sebagai petani.
Kebanyakan dari mereka bercocok tanam sawit dan karet. Di desa yang jaraknya kurang-lebih 30 km dari Kota Pangkalpiang, ibukota Provinsi Kepulauan Bangka Belitung, ini beroperasi perkebunan sawit PT MAS (Mitra Agro Sembada).

Sebelumnya Fournita Agustina, sebagai salah seorang dosen pendamping pada kegiatan penyuluhan ini, menjelaskan bahwa kegiatan penyuluhan merupakan bagian pemberlajatan team based project dari mata kuliah penyuluhan pertanian.

“Team based project merupakan salah satu metode pembelajaran baru bagi mahasiswa. Dalam konteks ini, mahasiswa turun langsung ke lapangan dan berinteraksi dengan masyarakat,” tukas Fournita yang juga Ketua Lembaga Pengembangan Pembelajaran dan Penjaminan Mutu (LP3M) UBB. (Eddy Jajang J Atmaja/Rn)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *